Kapan Pendidikan Seks pada Anak Bisa Diberikan?

 


Video pembelajaran tentang Kaum Sodom yang disampaikan Ribut Santoso, seorang guru Sekolah Dasa (SD) di Lumajang baru-baru ini viral di media sosial.

Video tersebut memperlihatkan Ribut yang sedang menjelaskan materi pelajaran Agama tentang umat Nabi Luth, yakni Kaum Sodom, kepada beberapa siswanya.

Guru di SDN Pagowan 1, Kecamatan Pasrujambe, Kabupaten Lumajang ini memang kerap membagikan konten mengajarnya di sosial media TikTok.

Kendati demikian, sejumlah warganet mengkritik video Ribut Santoso lantaran dianggap mengangkat topik seksual yang vulgar kepada anak-anak.

Sebaliknya, ada pula yang mendukung video Ribut karena sudah berusaha mengenalkan pendidikan seks sejak dini.

Pro dan kontra ini menimbulkan pertanyaan mengenai waktu yang tepat untuk mengajarkan pendidikan seks kepada anak-anak.

Lantas, kapan pendidikan seks bisa diberikan kepada anak-anak?

Penjelasan psikolog anak

Psikolog dari Unika Soegijapranata Semarang Christin Wibhowo menjelaskan, pendidikan seks bisa diberikan kepada anak-anak sejak dini.

Kendati demikian, materi yang disampaikan harus disesuaikan dengan tingkatan usia anak.

“Pendidikan seks itu sudah bisa dimulai sejak 3 tahun,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (26/3/2022).

“Pendidikan seks itu kan tidak selalu hubungan pastri. Tetapi bagaimana si anak itu menjaga dan merawat tubuhnya,” lanjut dia.


Bahkan, praktisi dan pemerhati perkembangan anak Nyi Mas Diane merekomendasikan agar orang tua mengajarkan pendidikan seks kepada anak sejak usia 0 sampai 10 tahun,

"Pendidikan seksual pada usia 0-2 tahun ini sebatas mengenal dia laki-laki atau dia perempuan, tentu dari karakteristik dan pakaian anak dapat mengenal gender," tuturnya, dikutip dari Kompas.com, Kamis (24/3/2021).

Sebagai contoh, pendidikan seks yang bisa diberikan kepada anak-anak berusia 3 tahun adalah kebiasaan ke toilet.

Meskipun masih dibantu oleh orang dewasa, kebiasaan ini perlu untuk diterapkan agar anak-anak memiliki kesadaran dan kemandirian untuk merawat dirinya sendiri.

“Jangan sampai kalau ke toilet harus dibantu orang lain. Nanti kesentuh bagian yang sensitif, nanti malah anak jadi tidak nyaman atau bahkan nyaman banget sehingga ketagihan,” jelas Christin.

Pendidikan seksual pada anak juga bisa diberikan dengan mengenalkan jenis sentuhan.

Anak-anak harus memahami bahwa terdapat beberapa bagian tubuh yang tidak boleh disentuh oleh orang asing.

“Anak-anak harus diajarkan bahwa bagian tubuh yang tertutup baju dalam tidak boleh dipegang atau difoto atau disentuh oleh siapa pun kecuali kalau ada ibu,” tuturnya.

Baca juga: Ramai soal Dugaan Pelecehan Seksual Pegawai Komisi Penyiaran, Ini Tanggapan KPI

Untuk mengenalkan anak-anak kepada siapa saja yang boleh dan tidak boleh menyentuh tubuhnya, orang tua bisa melakukannya dengan bantuan pohon keluarga.

Melalui pohon keluarga ini, anak-anak bisa mengenali mana saja orang terdekatnya dan bukan.

Dengan demikian, mereka bisa belajar untuk melindungi diri dari tindakan penyimpangan yang dilakukan oleh orang asing.